Here’s to the Greener Day.

Kalau boleh menarik kembali titik balik diri, tahun 2016 adalah tahun yang menjadi awal mula akan banyak hal baru. Saya punya banyak cerita yang terjadi dalam hidup saya di tahun itu—mulai dari melakukan kembali karya kolaborasi, perjalanan bersama sahabat baik, memulai sebuah hubungan dan kembali jatuh cinta, serta menemukan kesadaran untuk merubah sedikit demi sedikit gaya hidup dan meluaskan pandangan akan hal-hal yang tidak pernah terjamah sebelumnya.

Di antara banyak cerita, kota Yogyakarta menjadi lokasi yang dituju dalam dua kali perjalanan di tahun itu. Perjalanan pertama kesana bersama sahabat yang saya kagumi membuahkan banyak percakapan dan pelajaran yang saya bawa sampai sekarang. Saya ingat salah satu momen diskusi kami di suatu pagi yang dihabiskan di Candi Borobudur tentang bagaimana menjadi seorang pekerja kreatif yang lebih dekat dengan alam. Bagi sahabat saya yang bekerja sebagai desainer grafis dan bertani, mungkin hal itu sudah biasa. Pilihannya untuk bekerja secara organik dan seimbang telah dilakukan tak lama setelah kami lulus kuliah. Sedangkan saya, masih terjebak dengan rutinitas yang rasanya jauh dari alam—dan sudah pasti menjalani keseharian yang hampir melulu timpang. Tidak seimbang.

Selepas diskusi pagi itu, kami memutuskan untuk berkunjung ke Bumi Langit. Itu kali pertama saya benar-benar merasa diizinkan untuk melakukan refleksi terhadap diri sendiri, terutama ketika berkesempatan berbincang dengan Pak Iskandar. Ada kesadaran yang ditanamkan ke dalam diri, dan tentunya asupan sudut pandang baru untuk jiwa saya yang saat itu memang sedang sangat-sangat gelisah. Yogyakarta dengan segala kejutannya berhasil menjadi kota yang mulai berani mengagitasi diri yang galau ini.

Tidak lama setelah perjalanan bersama sahabat di bulan Februari, saya kembali lagi harus bertamu ke Yogyakarta untuk menghadiri sebuah pernikahan di bulan Mei. Di dalam perjalanan menuju kota gudeg itu, saya dipertemukan dengan seseorang yang menjawab sebagian besar pertanyaan saya atas tujuan-tujuan di dalam hidup. Romansa baru kembali tercipta. Sejak saat itu, saya menjalani hubungan dengan seseorang yang selalu menarik saya untuk kembali ke alam, kembali mengenal diri, kembali utuh. Tidak lagi bimbang.

Saat saya menuliskan ini, sudah dua tahun berlalu semenjak tahun 2016. Saya akhirnya menikah dengan lelaki yang saya temui dalam perjalanan ke Yogyakarta itu, dan mengawinkan mimpi besar kami yang dititipkan pada alam. Sahabat saya pun datang dan memberikan hadiah buku meditasi dimana dia yang mendesain bukunya. Kedua orang ini adalah dua dari sekian banyak yang menopang perjalanan, yang telah membuat saya tersadar untuk selalu menyuluh akar dan kembali mendekat pada alam melalui hal-hal sederhana.

Menyuluh akar ini dimulai sebagai sebuah transisi untuk saya yang senantiasa memilih untuk terus berproses. Akhirnya tiba pada waktu untuk merapihkan ruang ini, menatanya lagi, dan mewajibkan diri menulis kembali. Semoga rangkaian catatan dalam jurnal maya ini kelak membawa saya menjadi tubuh kreatif yang lebih dekat dengan alam, menemukan keseimbangan,  tenang dalam kesederhanaan serta mampu utuh menjadi diri sendiri.

Jika ada yang mampir dan mengintip arsip-arsip ini, besar harapan agar yang dituliskan tak hanya berguna untuk saya sendiri. Semoga juga kita senantiasa sehat dan bahagia.

 

Advertisements

Rekam jejak, peralihan, dan cerita-cerita sederhana dalam keseharian.